TRANSPLANTASI ORGAN DAN DONOR ORGAN DITINJAU DARI HUKUM ISLAM

Hallo sahabat, kali ini kita akan membahas tentang Transplantasi dan Donor organ. Pasti sahabat semua penasaran terkait hal tersebut dan bertanya-tanya boleh ga sih tranplantasi organ dan donor organ dalam sudut islam, ? mau tahu ? penasaran ya…… Langsung aja yu kita bahas mengenai hal tersebut.

“ Setiap penyakit ada obatnya, apabila obat itu tepat, maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah “. ( HR. Ahmad dan Muslim dari Jabir )

 

Sebelumnya Sahabat semua pada tahu ga sih Transplantasi organ itu apa ?

Transplantasi Organ adalah pemindahan organ tubuh dari orang sehat / mayat yang organ tubuhnya mempunyai daya hidup sehat kepada tubuh orang lain yang memiliki organ tubuh yang tidak berfungsi lagi sehingga resipien (penerima organ tubuh) dapat bertahan hidup secara sehat.

– Klasifikasi Jenis Transplantasi

  • Transplantasi Autograft

Perpindahan dari satu tempat ketempat lain dalam tubuh itu sendiri, yang dikumpulkan sebelum pemberian kemoterapi.

  • Transplantasi Isograf

Perpindahan dari satu tubuh ketubuh lain yang identik.

  • Transplantasi Xenograft

Perpindahan dari satu tubuh ke tubuh lain yang tidak sama spesiesnya.

Menurut Cholli Uman (1994), Pencangkokan adalah pemindahan organ tubuh yang mempunyai daya hidup yang sehat untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat dan tidak berfungsi dengan baik, yang apabila diobati dengan prosedur medis biasa, harapan klien untuk bertahan hidupnya tidak ada lagi.

– Tipe Donor Organ

  • Donor Organ dari Pendonor Mati

Transplantasi organ dari pendonor mati adalah transplantasi yang dilakukan menggunakan donor anggota tubuh manusia bagi siapa saja yang membutuhkan pada saat si pendonor sudah mati. Hal ini dibolehkan jika si pendonor memberikan wasiat untuk mendonorkan organnya kepada orang lain ketika dia masih hidup.

“Mematahkan tulang orang yang telah mati sama hukumnya dengan memotong tulangnya ketika ia masih hidup”.

Dengan demikian Rasulullah saw melarang untuk merampas dan menyakiti (si mati). Memang benar bahwa melampaui batas terhadap orang mati dengan melukai atau memotong atau bahkan memecahkan (tulang) tidak ada jaminan (diyat) sebagaimana ketika dia masih hidup. Akan tetapi jelas bahwa melampaui batas terhadap jasad si mati atau menyakitinya dengan cara mengambil anggota tubuhnya adalah haram; dan haramnya bersifat pasti (qath’i).

Sesuai dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia tanggal 29 juni 1987, bahwa dalam kondisi tidak ada pilihan lain yang lebih baik, maka pengambilan katup jantung orang yang telah meninggal untuk kepentingan orang masih hidup dapat dibenarkan oleh hukum islam dengan syarat ada izin dari yang bersangkutan ( lewat wasiat sewaktu masih hidup ) dan izin keluarga/ahli waris.

Adapun fatwa MUI tersebut dikeluarkan setelah mendengar penjelasan langsung dari Dr. Tarmizi Hakim kepada UPF bedah jantung RS Jantung “ Harapan Kita “ tentang teknis pengambilan katup jantung serta hal-hal yang berhubungan dengannya di ruang sidang MUI pada tanggal 16 Mei 1987. Komisi fatwa sendiri mengadakan diskusi dan pembahasan tentang masalah tersebut beberapa kali dan terakhir pada tanggal 27 juni 1987.

  • Donor Organ dari Pendonor Hidup

Transplantasi organ dari pendonor hidup adalah transplantasi yang dilakukan menggunakan donor anggota tubuh manusia bagi siapa saja yang membutuhkan pada saat si pendonor masih hidup. Hal ini hukumnya boleh. Allah swt memperbolehkan memberikan pengampunan terhadap qisash maupun diyat.

Allah Swt berfirman :

“ Maka barang siapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hedaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih “. ( QS. Al-Baqaroh : 178 )

Donor seperti ini dibolehkan dengan syarat : donor tersebut tidak mengakibatkan kematian si pendonor. Misalnya dia mendonorkan jantung, limpha atau paru-parunya. Hal ini akan mengakibatkan kematian pada diri si pendonor. Padahal manusia tidak boleh membunuh dirinya atau membiarkan orang lain membunuh dirinya, meski dengan kerelaanya.

  • Ayat-Ayat Al-Qur’an yang Berkaitan dengan Donor Organ
  • Firman Allah dalam Al Qur’an surah Al Baqarah ayat 195 :

وَلاَ تُلْقُوْا بِأَيْدِيْكُمْ إَلىَ التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan”.

Ayat tersebut mengingatkan manusia, agar jangan gegabah dan ceroboh dalam melakukan sesuatu, namun tetap menimbang akibatnya yang kemungkinan bisa berakibat fatal bagi diri donor, walaupun perbuatan itu mempunyai tujuan kemanusiaan yang baik dan luhur. Islam tidak membenarkan seseorang membiarkan dirinya dalam bahaya, tanpa berusaha mencari penyembuhan secara medis dan non medis, termasuk upaya transplantasi, yang memberi harapan untuk bisa bertahan hidup dan menjadi sehat kembali.

وَلاَتَـقْـتُـلُوْا اَنْـفُسَهُمْ إِنَّ اللهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا ( النسآء : 29

“… dan janganlah kamu membunuh dirimu ! Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa 4: 29)

Maksudnya, apabila sakit, berobatlah secara optimal sesuai dengan kemampuan karena setiap penyakit sudah ditentukan obatnya.

.      Al-Qur’an surah Al-Maidah ayat 32:

وَمَنْ أَحْياَهَا فَكَأَنمَّاَ أَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعاً

“Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia memelihara kehidupan manusia semuanya”.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa tindakan kemanusiaan (seperti transplantasi) sangat dihargai oleh agama Islam, tentunya sesuai dengan syarat-syarat.

  • Hadits-Hadits Nabi yang berkaitan dengan Donor Organ
  • Hadits Nabi, riwayat Malik dari ‘Amar bin Yahya, riwayat al-Hakim, al-Baihaqi dan al-Daruquthni dari Abu Sa’id al-Khudri dan riwayat Ibnu Majah dari Ibnu ‘Abbas dan ‘Ubadah bin al-Shamit :

لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ

Berdasarkan hadits tersebut, mengambil organ tubuh orang dalam keadaan koma/sekarat haram hukumnya, karena dapat membuat madharat kepada donor tersebut yang berakibat mempercepat kematiannya, yang disebut euthanasia.

  • Ada dua pendapat tentang masalah ini :
  1. Pendapat pertama mengatakan, haram memanfaatkan organ tubuh manusia yang sudah meninggal, karena sosok mayat manusia harus dihormati sebagaimana ia dihormati semasa hidupnya. Landasannya, sabda Rasulullah saw., “Memotong tulang mayat sama dengan memotong tulang manusia ketika masih hidup.” (HR. Abu Daud)
  2. Pendapat kedua menyatakan, memanfaatkan organ tubuh manusia sebagai pengobatan dibolehkan dalam keadaan darurat. Alasannya, hadits riwayat Abu Daud yang melarang memotong tulang mayat tersebut berlaku jika dilakukan semena-mena tanpa manfaat. Apabila dilakukan untuk pengobatan, pemanfaatan organ mayat tidak dilarang karena hadits yang memerintahkan seseorang untuk mengobati penyakitnya lebih banyak dan lebih meyakinkan daripada hadits Abu Daud tersebut.
  • Hadits Nabi saw.

تَدَاوُوْا عِبَادَ اللهِ فَإِنَّ الله َلَمْ يَضَعْ دَاءً إِلاَّ وَضَعَ لَهُ دَوَاءً غَيْرَ دَاءٍ وَاحِدٍ اْلهَرَمُ

“Berobatlah kamu hai hamba-hamba Allah, karena sesungguhnya Allah tidak meletakkan suatu penyakit kecuali dia juga telah meletakkan obat penyembuhnya, selain penyakit yang satu, yaitu penyakit tua”.(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Hakim dari Usamah ibnu Syuraih)

Oleh sebab itu, transplantasi sebagai upaya menghilangkan penyakit, hukumnya mubah, asalkan tidak melanggar norma ajaran Islam.

Dalam hadits lain, Rasulullah bersabda pula : “Setiap penyakit ada obatnya, apabila obat itu tepat, maka penyakit itu akan sembuh atas izin Allah”. (HR. Ahmad dan Muslim dari Jabir).

– Kondisi yang memungkinkan Donor Organ Menjadi Haram

  • Transplantasi organ tubuh menjadi haram apabila:
  1. Organ yang didonorkan dapat menyebabkan kematian bagi pendonor, misalnya mendonorkan jantung atau otak (Al-Baqarah:195).
  2. Saat pendonor mendonorkan organ ganda, seperti ginjal, yang salah satunya rusak, maka haram hukumnya karena dapat membahayakan kehidupan pendonor.
  3. Pendonor yang telah meninggal dunia mendonorkan organ non-vitalnya seperti kornea, pupil, atau mata.
  4. Pendonor mendonorkan organ reproduksi, karena dapat menimbulkan kebingungan pada keturunannya mendatang.
  5. Pendonor dalam keadaan koma.
  6. Pendonor telah meninggal (masih kontroversi), kaena seseorang yang telah meninggal tidak memiliki hak atas tubuhnya, dan siapapun juga tidak berhak memanfaatkan tubuh mayat karena Allah SWT telah mengaturnya dalam hukum kehormatan mayat.

Nah, itu pembahasan mengenai Transplantasi organ dan donor organ, pasti sahabat sudah mengertikan mengenai hal tersebut, Semoga pembahasan ini bisa bermanfaat bagi sahabat semua.

Referensi :

Al Qur’an

Hadist

Ebrahim, Abul Fadl Mohsin. Fikih Kesehatan. Penerbit Serambi. Jakarta. 2007

MUI, Himpunan Keputusan dan Fatwa Majelis Ulama Indonesia, (Jakarta: Sekretariat MUI, 1415 H/1994 M)

http://fosmik-unhas.tripod.com/buletin.html

Halo dunia!

Ini adalah pos pertama Anda. Klik tautan Sunting untuk mengubah atau menghapusnya, atau mulai pos baru. Jika Anda menyukai, gunakan pos ini untuk menjelaskan kepada pembaca mengapa Anda memulai blog ini dan apa rencana Anda dengan blog ini.

Selamat blogging!

Keperawatan Religion Lis Heni Pujianti

Peran Perawat dalam Mencegah Aborsi

keperawatan Religion Santi Ariyanti

Program Keluarga Berencana Menurut Hukum Islam

keperawatan religion annisa aulia suci

”Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari suatu ilmu. Niscaya Allah memudahkannya ke jalan menuju surga”. (HR. Turmudzi)

Keperawatan Religion Agung

Bimbingan Sakaratul Maut bagi Klien Muslim

keperawatanreligionsitimaemunah

hidup adalah hak setiap manusia.

Keperawatan Religion

Nurse care every where, every time, and every moment.. :)

Illyana Maulydia :)

Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

keperawatanreligionapiphamjah

Kesempatan Tidak Datang Dua Kali